Analisis potensi, hambatan, dan strategi pengembangan sektor perikanan di Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya.
Desa Sukaruas dikenal sebagai sentra kerajinan, namun potensi perikanan air tawarnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Bagaimana kondisi aktual kegiatan budidaya, meliputi jenis ikan, sarana prasarana, dan tingkat partisipasi masyarakat?
Faktor-faktor apa yang menjadi hambatan dan peluang, dari aspek SDA maupun dukungan pemerintah daerah?
Strategi apa yang tepat untuk mengoptimalkan sektor perikanan sebagai acuan masyarakat dan pemerintah desa?
Penelitian kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi.
Pedoman wawancara semi-terstruktur yang digunakan selama pengumpulan data lapangan di Desa Sukaruas (21–24 Januari 2026).
| No. | Aspek | Pertanyaan | Jawaban |
|---|---|---|---|
| 1. | Identitas | Sebelumnya, apakah Bpk/Ibu boleh memperkenalkan diri? | |
| Kira-kira, Bpk/Ibu sudah memelihara ikan selama berapa tahun? | |||
| Apakah Bpk/Ibu punya pengalaman dalam memelihara hal lain? Mungkin seperti ikan air asin atau yang lain? | |||
| 2. | Kolam | Sistem kolam apa yang digunakan? (Kolam tanah, kolam beton, terpal, atau Keramba Jaring Apung/KJA?) | |
| Apa alasan memilih kolam itu? | |||
| Bagaimana pengaturan pengairan dan pengelolaan kualitas air di sini? Berapa pH Air yang digunakan? | |||
| 3. | Ikan | Apa jenis ikan utama yang dibudidayakan (misal: nila, lele, mas, patin)? | |
| Jenis ikan apa yang paling mudah untuk dirawat serta diminati di kalangan masyarakat? | |||
| Dari mana Bpk/Ibu mendapatkan sumber benih ikan? (Apakah pembenihan sendiri atau membeli dari luar?) | |||
| Jika dari luar, pertimbangan apa yang digunakan untuk menentukan benih ikan tersebut layak/berkualitas bagus? | |||
| Lalu bagaimana cara merawatnya? | |||
| Jenis pakan apa yang digunakan (pakan pabrikan atau pakan alternatif) dan bagaimana frekuensi pemberiannya? | |||
| Apa alasan memilih pakan Pabrik/Alternatif? | |||
| Apa saja kendala utama atau penyakit yang sering menyerang ikan di daerah ini? | |||
| Bagaimana cara Bapak/Ibu menangani jika ada ikan yang sakit atau terjadi kematian massal? |
Tabel 3.2 Instrumen wawancara
Data dari 6 responden pembudidaya ikan aktif. Klik nama responden untuk melihat detail lengkap.
"Mayoritas menggunakan kolam tanah — ikan nila lebih nyaman dengan substrat tanah, biaya lebih murah, dan lebih fleksibel untuk dibongkar jika diperlukan."
Sumber air: 100% dari sungai · pH tidak dimonitor oleh seluruh responden · Pembersihan kolam rata-rata setiap 3 bulan sekali. Kolam beton dipilih Bu Maria karena kendala saluran pembuangan di lingkungan sekitar.
| Dibudidayakan oleh | 5 dari 6 responden (terbanyak) |
| Responden | Bu Farida, Bu Maria, Pak Dikri, Bu Siti, Pak Dudung |
| Preferensi kolam | Kolam tanah bersubstrat — mendukung pakan alami (plankton & fitoplankton) |
| Catatan | Komoditas paling dominan di Desa Sukaruas |
| Dibudidayakan oleh | 4 dari 6 responden |
| Responden | Bu Maria, Pak Dikri, Pak Farid, Pak Dudung |
| Preferensi kolam | Kolam tanah atau terpal — tumbuh baik di berbagai jenis kolam |
| Catatan | Sering dipasangkan dengan Nila dalam satu kolam |
| Dibudidayakan oleh | 3 dari 6 responden |
| Responden | Pak Dikri, Bu Siti, Pak Dudung |
| Preferensi kolam | Kolam tanah atau terpal — toleransi lingkungan tinggi, biaya produksi rendah |
| Catatan | Kerabat dekat ikan Nila, sering dibudidayakan bersama |
| Dibudidayakan oleh | 4 dari 6 responden |
| Responden | Bu Farida, Bu Siti, Pak Farid, Pak Dudung |
| Preferensi kolam | Kolam tanah (tambak) — kaya mineral alami; tanah liat/berlumpur paling ideal |
| Catatan | Bu Farida beralih ke Bawal setelah pandemi Covid-19 |
| Dibudidayakan oleh | 2 dari 6 responden |
| Responden | Bu Farida, Pak Farid |
| Preferensi kolam | Kolam tanah, beton, atau terpal — butuh kualitas air ketat & manajemen lebih intensif |
| Catatan | Membutuhkan manajemen kualitas air lebih ketat |
| Dibudidayakan oleh | 2 dari 6 responden |
| Responden | Bu Maria, Pak Dikri |
| Preferensi kolam | Kolam tanah atau terpal — toleran kondisi padat, tahan kualitas air rendah |
| Catatan | Bu Farida dulunya budidaya Lele sebelum pandemi, kini beralih ke Bawal & Gurame |
| Dibudidayakan oleh | 2 dari 6 responden |
| Responden | Pak Dikri, Pak Dudung |
| Preferensi kolam | Fleksibel — kolam tanah, beton, terpal, maupun bak; adaptasi tinggi |
| Catatan | Dibudidayakan bersama jenis ikan lain dalam sistem multi-spesies |
"Ketergantungan pada pelet pabrikan dengan harga fluktuatif menjadi tantangan ekonomi utama keberlanjutan usaha pembudidaya."
— Temuan Penelitian, 2026Identifikasi faktor internal dan eksternal pengembangan budidaya ikan air tawar di Desa Sukaruas.
"Usaha budidaya berada pada posisi Kuadran I (S-O) — strategi paling tepat adalah Strategi Agresif: memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut peluang secara maksimal."
— Adaptasi dari Andriadhi, Bambang & Darmanto (2017)Rekomendasi pengembangan yang dapat diterapkan secara bertahap oleh masyarakat dan pemerintah desa.
Ringkasan temuan utama penelitian budidaya ikan air tawar di Desa Sukaruas, Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya.
Mayoritas pembudidaya (83%) menggunakan kolam tanah konvensional untuk komoditas Nila, Gurame, dan Mas. Pilihan ini didasari efisiensi biaya dan kemudahan perawatan, meski produktivitasnya masih bergantung pada kondisi alam.
Terdapat 7 jenis ikan yang dibudidayakan: Nila (5 responden), Bawal & Mas (4 responden), Mujair (3 responden), Patin, Lele & Gurame (2 responden). Nila menjadi komoditas paling dominan.
Dua hambatan utama yang ditemukan: (1) fluktuasi harga pakan pabrikan yang memengaruhi biaya produksi, dan (2) keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya modern dan monitoring kualitas air.
Meskipun memiliki potensi lahan yang memadai, optimalisasi budidaya memerlukan peningkatan literasi teknis pembudidaya dan penguatan kelembagaan kelompok tani ikan guna meningkatkan daya saing ekonomi desa.
Seluruh responden menggunakan sumber air sungai tanpa monitoring pH. Pembersihan kolam dilakukan rata-rata 3 bulan sekali. Ketergantungan pada saluran air bersama meningkatkan risiko transmisi patogen antar kolam.
Posisi budidaya berada pada Kuadran I SWOT (S-O Strategy) — strategi agresif melalui pemanfaatan kekuatan lokal untuk merebut peluang pasar, integrasi wisata, dan adopsi teknologi akuaponik.
"Sektor perikanan di Desa Sukaruas memiliki fondasi pengalaman yang kuat — yang dibutuhkan adalah dorongan teknis, kelembagaan, dan inovasi agar dapat tumbuh sejajar dengan industri kerajinan."
— Kesimpulan Kelompok 14, Karya Ilmiah TeSIS 2026Visualisasi data dari 6 responden pembudidaya ikan di Desa Sukaruas (data dikoreksi sesuai hasil wawancara).
Kelompok 14 · SMA Negeri 8 Jakarta · Karya Ilmiah Kenaikan Kelas XII · TeSIS 2026