Home Pendahuluan Metode Hasil Analisis Rekomendasi Kesimpulan Data Tim
Karya Ilmiah · Kelompok 14 · SMAN 8 Jakarta

Analisis Budidaya Ikan Air Tawar
di Desa Sukaruas

Analisis potensi, hambatan, dan strategi pengembangan sektor perikanan di Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya.

6Responden
4Hari Riset
7Jenis Ikan
Mulai Baca →

Latar Belakang

Desa Sukaruas dikenal sebagai sentra kerajinan, namun potensi perikanan air tawarnya belum dimanfaatkan secara optimal.

5
Komoditas prospektif (mas, nilem, nila, gurame, udang)
Minimal
Skala budidaya di Desa Sukaruas saat ini
🏘️
Dominasi Kerajinan
Masyarakat berfokus pada anyaman mendong, pandan, dan eceng gondok yang sudah menembus pasar ekspor.
💧
Potensi Perairan
Kondisi iklim dan ketersediaan air di Rajapolah sangat mendukung pengembangan budidaya ikan air tawar.
📉
Ketimpangan Pemanfaatan
Kegiatan perikanan masih bersifat subsisten — sekadar konsumsi rumah tangga tanpa orientasi pasar.

Rumusan Masalah

Bagaimana kondisi aktual kegiatan budidaya, meliputi jenis ikan, sarana prasarana, dan tingkat partisipasi masyarakat?

Faktor-faktor apa yang menjadi hambatan dan peluang, dari aspek SDA maupun dukungan pemerintah daerah?

Strategi apa yang tepat untuk mengoptimalkan sektor perikanan sebagai acuan masyarakat dan pemerintah desa?

Metodologi Penelitian

Penelitian kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi.

🗺️
Lokasi & Waktu
Desa Sukaruas, Kec. Rajapolah, Kab. Tasikmalaya — 4 hari (21–24 Januari 2026).
🎙️
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara semi-terstruktur, observasi langsung kolam, dan studi dokumentasi/profil desa.
👥
Purposive Sampling
6 informan dipilih: warga aktif yang mengelola budidaya ikan air tawar di Desa Sukaruas.
📋
Instrumen Penelitian
Pedoman wawancara mencakup identitas, sistem kolam, jenis ikan, pakan, dan penanganan penyakit.

Alur Penelitian

Sep–Des 2025
Persiapan & Penyusunan Instrumen
Membuat pedoman wawancara dan mengkaji literatur terkait budidaya ikan air tawar di Tasikmalaya.
21–24 Jan 2026
Pengumpulan Data Lapangan
Wawancara 6 responden, observasi langsung kondisi kolam tanah & beton, dan dokumentasi foto.
Feb–Mar 2026
Pengolahan & Analisis Data Kualitatif
Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik dari hasil wawancara.
27 Mar 2026
Finalisasi Karya Ilmiah
Hasil analisis disajikan dalam laporan dan rekomendasi strategi pengembangan untuk Desa Sukaruas.

Instrumen Penelitian (Pedoman Wawancara)

Pedoman wawancara semi-terstruktur yang digunakan selama pengumpulan data lapangan di Desa Sukaruas (21–24 Januari 2026).

No. Aspek Pertanyaan Jawaban
1. Identitas Sebelumnya, apakah Bpk/Ibu boleh memperkenalkan diri?
Kira-kira, Bpk/Ibu sudah memelihara ikan selama berapa tahun?
Apakah Bpk/Ibu punya pengalaman dalam memelihara hal lain? Mungkin seperti ikan air asin atau yang lain?
2. Kolam Sistem kolam apa yang digunakan? (Kolam tanah, kolam beton, terpal, atau Keramba Jaring Apung/KJA?)
Apa alasan memilih kolam itu?
Bagaimana pengaturan pengairan dan pengelolaan kualitas air di sini? Berapa pH Air yang digunakan?
3. Ikan Apa jenis ikan utama yang dibudidayakan (misal: nila, lele, mas, patin)?
Jenis ikan apa yang paling mudah untuk dirawat serta diminati di kalangan masyarakat?
Dari mana Bpk/Ibu mendapatkan sumber benih ikan? (Apakah pembenihan sendiri atau membeli dari luar?)
Jika dari luar, pertimbangan apa yang digunakan untuk menentukan benih ikan tersebut layak/berkualitas bagus?
Lalu bagaimana cara merawatnya?
Jenis pakan apa yang digunakan (pakan pabrikan atau pakan alternatif) dan bagaimana frekuensi pemberiannya?
Apa alasan memilih pakan Pabrik/Alternatif?
Apa saja kendala utama atau penyakit yang sering menyerang ikan di daerah ini?
Bagaimana cara Bapak/Ibu menangani jika ada ikan yang sakit atau terjadi kematian massal?

Tabel 3.2 Instrumen wawancara

Hasil Penelitian

Data dari 6 responden pembudidaya ikan aktif. Klik nama responden untuk melihat detail lengkap.

Temuan Utama per Aspek

Kolam Tanah83% (5 responden)
Kolam Beton17% (1 responden)
Kolam tanah budidaya ikan
Ilustrasi kolam tanah — digunakan oleh 5 dari 6 responden
Kolam beton budidaya ikan
Ilustrasi kolam beton — digunakan oleh Bu Maria

"Mayoritas menggunakan kolam tanah — ikan nila lebih nyaman dengan substrat tanah, biaya lebih murah, dan lebih fleksibel untuk dibongkar jika diperlukan."

Sumber air: 100% dari sungai · pH tidak dimonitor oleh seluruh responden · Pembersihan kolam rata-rata setiap 3 bulan sekali. Kolam beton dipilih Bu Maria karena kendala saluran pembuangan di lingkungan sekitar.

Nila
Mas
Mujair
Bawal
Gurame
Lele
Patin
Ikan Nila
🐟
Ikan Nila
Oreochromis niloticus
Dibudidayakan oleh5 dari 6 responden (terbanyak)
RespondenBu Farida, Bu Maria, Pak Dikri, Bu Siti, Pak Dudung
Preferensi kolamKolam tanah bersubstrat — mendukung pakan alami (plankton & fitoplankton)
CatatanKomoditas paling dominan di Desa Sukaruas
Ikan Mas
🟠
Ikan Mas
Cyprinus carpio
Dibudidayakan oleh4 dari 6 responden
RespondenBu Maria, Pak Dikri, Pak Farid, Pak Dudung
Preferensi kolamKolam tanah atau terpal — tumbuh baik di berbagai jenis kolam
CatatanSering dipasangkan dengan Nila dalam satu kolam
Ikan Mujair
🐠
Ikan Mujair
Oreochromis mossambicus
Dibudidayakan oleh3 dari 6 responden
RespondenPak Dikri, Bu Siti, Pak Dudung
Preferensi kolamKolam tanah atau terpal — toleransi lingkungan tinggi, biaya produksi rendah
CatatanKerabat dekat ikan Nila, sering dibudidayakan bersama
Ikan Bawal
🔵
Ikan Bawal
Colossoma macropomum
Dibudidayakan oleh4 dari 6 responden
RespondenBu Farida, Bu Siti, Pak Farid, Pak Dudung
Preferensi kolamKolam tanah (tambak) — kaya mineral alami; tanah liat/berlumpur paling ideal
CatatanBu Farida beralih ke Bawal setelah pandemi Covid-19
Ikan Gurame
🐡
Ikan Gurame
Osphronemus goramy
Dibudidayakan oleh2 dari 6 responden
RespondenBu Farida, Pak Farid
Preferensi kolamKolam tanah, beton, atau terpal — butuh kualitas air ketat & manajemen lebih intensif
CatatanMembutuhkan manajemen kualitas air lebih ketat
Ikan Lele
🟤
Ikan Lele
Clarias sp.
Dibudidayakan oleh2 dari 6 responden
RespondenBu Maria, Pak Dikri
Preferensi kolamKolam tanah atau terpal — toleran kondisi padat, tahan kualitas air rendah
CatatanBu Farida dulunya budidaya Lele sebelum pandemi, kini beralih ke Bawal & Gurame
Ikan Patin
Ikan Patin
Pangasianodon hypophthalmus
Dibudidayakan oleh2 dari 6 responden
RespondenPak Dikri, Pak Dudung
Preferensi kolamFleksibel — kolam tanah, beton, terpal, maupun bak; adaptasi tinggi
CatatanDibudidayakan bersama jenis ikan lain dalam sistem multi-spesies
Pelet Pabrikan100% (6 responden)
Pakan Alternatif (air beras)17% (1 responden — Bu Maria)
Frekuensi Umum
2x sehari — pagi-sore atau siang-sore (Bu Farida, Pak Dikri, Bu Siti)
⏱️
Frekuensi Tinggi
Pak Farid: 3x sehari. Pak Dudung: kadang 2x, kadang 3x (tidak tetap).
Alasan Pelet
Standar umum, mudah dicari di pasaran, dan sudah terbukti digunakan tetangga sesama peternak.
🌾
Pakan Alternatif
Bu Maria juga menggunakan air beras dengan frekuensi tidak menentu (menunggu air beras tersedia).

"Ketergantungan pada pelet pabrikan dengan harga fluktuatif menjadi tantangan ekonomi utama keberlanjutan usaha pembudidaya."

— Temuan Penelitian, 2026
🦠
Penyakit Bintik Merah & Exophthalmia
Bintik merah di sirip (Bu Farida, Bu Maria) dan mata menonjol (exophthalmia / pop-eye) — penyakit paling sering dilaporkan.
🌧️
Pancaroba & Kekeruhan Air
Perubahan musim kemarau ke hujan menyebabkan banyak ikan mati (Pak Dikri). Air hujan dan saluran bersama memperparah kekeruhan.
📊
Tidak Ada Monitoring pH Air
Seluruh 6 responden mengandalkan air sungai tanpa pengujian kualitas air secara rutin.
💸
Fluktuasi Harga Pakan
Harga pelet pabrikan tidak stabil menjadi kendala ekonomi utama bagi keberlanjutan usaha pembudidaya.
🐟
Kematian Massal Tanpa Sebab Jelas
Pak Farid melaporkan ikan terkadang mati sendiri tanpa diketahui penyebabnya — indikasi perlu monitoring lebih baik.
🔀
Pencampuran Spesies
Bu Maria menemukan ikan beda jenis lebih sering mati jika digabung dalam satu kolam — perlu pemisahan per spesies.

Analisis SWOT

Identifikasi faktor internal dan eksternal pengembangan budidaya ikan air tawar di Desa Sukaruas.

💪 Strengths

  • Pengalaman bertahun-tahun (5–30+ tahun)
  • Ketersediaan air sungai yang melimpah
  • Lahan kolam tanah yang sudah tersedia
  • Keragaman komoditas ikan (7 jenis)
  • Pengetahuan lokal tentang penanganan penyakit dasar

⚠️ Weaknesses

  • Tidak ada monitoring kualitas air (pH)
  • Penanganan penyakit masih reaktif, bukan preventif
  • Ketergantungan pada pakan pabrikan sepenuhnya
  • Sebagian besar benih masih dibeli dari luar
  • Skala usaha kecil tanpa orientasi pasar kuat

🚀 Opportunities

  • Pasar lokal yang terus berkembang
  • Inovasi akuaponik terbukti efektif (Nugroho et al., 2012)
  • Potensi integrasi dengan wisata kerajinan Rajapolah
  • Dukungan kebijakan dan penyuluhan pemerintah daerah

🌩️ Threats

  • Dominasi ekonomi kerajinan yang sudah mapan
  • Pencemaran air antar kolam (saluran bersama)
  • Fluktuasi harga pelet pabrikan
  • Dampak pancaroba terhadap kualitas dan suhu air
  • Keterbatasan akses teknologi budidaya modern

"Usaha budidaya berada pada posisi Kuadran I (S-O) — strategi paling tepat adalah Strategi Agresif: memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut peluang secara maksimal."

— Adaptasi dari Andriadhi, Bambang & Darmanto (2017)

Strategi & Rekomendasi

Rekomendasi pengembangan yang dapat diterapkan secara bertahap oleh masyarakat dan pemerintah desa.

1
Monitoring Kualitas Air Berkala
Alat uji pH sederhana dan jadwal pemeriksaan rutin minimal seminggu sekali — langkah paling mendasar dan berbiaya rendah untuk mencegah kematian massal akibat perubahan kualitas air.
2
Penguatan Kelembagaan Kelompok Pembudidaya
Kelompok pembudidaya dapat mengakses input produksi lebih baik dan meningkatkan kinerja usaha (Hermawan, 2017). Kelompok tani ikan yang kuat meningkatkan daya saing ekonomi desa.
3
Penerapan Teknologi Akuaponik
Sistem akuaponik terbukti mereduksi amonia dan meningkatkan kualitas air (Nugroho et al., 2012) — cocok untuk kolam kecil dan dapat diintegrasikan dengan kolam tanah yang sudah ada.
4
Pengembangan Pembenihan Mandiri
Melatih pembudidaya untuk pembibitan mandiri guna mengurangi ketergantungan dan biaya input produksi — meniru praktik terbaik dari Pak Farid dan Pak Dudung yang sudah membenihkan sendiri.
5
Peningkatan Literasi Teknis Pembudidaya
Pelatihan penanganan penyakit preventif: mengubah pendekatan dari reaktif (buang ikan sakit) ke preventif melalui karantina, probiotik, pemisahan spesies, dan biosekuriti kolam.

Kesimpulan

Ringkasan temuan utama penelitian budidaya ikan air tawar di Desa Sukaruas, Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya.

🏊 Sistem Budidaya Dominan

Mayoritas pembudidaya (83%) menggunakan kolam tanah konvensional untuk komoditas Nila, Gurame, dan Mas. Pilihan ini didasari efisiensi biaya dan kemudahan perawatan, meski produktivitasnya masih bergantung pada kondisi alam.

🐟 Keragaman Komoditas

Terdapat 7 jenis ikan yang dibudidayakan: Nila (5 responden), Bawal & Mas (4 responden), Mujair (3 responden), Patin, Lele & Gurame (2 responden). Nila menjadi komoditas paling dominan.

⚠️ Kendala Utama

Dua hambatan utama yang ditemukan: (1) fluktuasi harga pakan pabrikan yang memengaruhi biaya produksi, dan (2) keterbatasan akses terhadap teknologi budidaya modern dan monitoring kualitas air.

🚀 Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Meskipun memiliki potensi lahan yang memadai, optimalisasi budidaya memerlukan peningkatan literasi teknis pembudidaya dan penguatan kelembagaan kelompok tani ikan guna meningkatkan daya saing ekonomi desa.

💧 Manajemen Air

Seluruh responden menggunakan sumber air sungai tanpa monitoring pH. Pembersihan kolam dilakukan rata-rata 3 bulan sekali. Ketergantungan pada saluran air bersama meningkatkan risiko transmisi patogen antar kolam.

📈 Strategi ke Depan

Posisi budidaya berada pada Kuadran I SWOT (S-O Strategy) — strategi agresif melalui pemanfaatan kekuatan lokal untuk merebut peluang pasar, integrasi wisata, dan adopsi teknologi akuaponik.

"Sektor perikanan di Desa Sukaruas memiliki fondasi pengalaman yang kuat — yang dibutuhkan adalah dorongan teknis, kelembagaan, dan inovasi agar dapat tumbuh sejajar dengan industri kerajinan."

— Kesimpulan Kelompok 14, Karya Ilmiah TeSIS 2026

Grafik & Data Penelitian

Visualisasi data dari 6 responden pembudidaya ikan di Desa Sukaruas (data dikoreksi sesuai hasil wawancara).

Pengalaman Budidaya (Tahun)
Per responden
Jenis Kolam yang Digunakan
Distribusi 6 responden
Jenis Pakan yang Digunakan
Seluruh responden (pelet = utama semua)
Jenis Ikan yang Dibudidayakan
Frekuensi penyebutan dari 6 responden
100%
Pakai pelet pabrikan
83%
Kolam tanah
7
Jenis ikan dibudidayakan

Tim Peneliti

Kelompok 14 · SMA Negeri 8 Jakarta · Karya Ilmiah Kenaikan Kelas XII · TeSIS 2026

Pembimbing
Bibit Purwantini, M.Pd. (Materi)
Niken Meilina Putri, S.Pd. (Teknis)
SMA Negeri 8 Jakarta
Jl. Taman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840